Banner 728x90 pxl

Rabu, 19 Januari 2011

Efavirenz

dosis


Dosis oral:
  Dewasa dan remaja > 40 kg: 600 mg PO sekali sehari sebelum tidur.

  Akan lebih baik bila diberikan kombinasi efevirenz dengan lamivudin.

  Remaja pada awal pubertas menggunakan dosis pediatri.

  Remaja dan anak-anak >= 3 tahun, >= 40 kg: 600 mg PO sekali sehari sebelum tidur.

  Sangat disarankan penggunaan kombinasi NNRTI efavirenz dengan atau tanpa nelfinavir: dengan stavudin dan lamivudin; atau dengan zidovudin dan didanosin atau lamivudin.

  Anak-anak >= 3 tahun, 32.5-39.9 kg: 400 mg PO sekali sehari sebelum tidur

  Anak-anak >= 3 tahun, 25-32.4 kg: 350 mg PO sekali sehari sebelum tidur

  Anak-anak >= 3 tahun, 20-24.9 kg: 300 mg PO sekali sehari sebelum tidur

  Anak-anak >= 3 tahun, 15-19.9 kg: 250 mg PO sekali sehari sebelum tidur

  Anak-anak >= 3 tahun, 10-14.9 kg: 200 mg PO sekali sehari sebelum tidur

  Anak-anak <= 3 tahun: Tidak ada data farmakokinetika yang tersedia untuk dosis efavirenz pada anak-anak <= 3 tahun.

  Untuk pencegahan HIV setelah terpapar (di tempat kerja):

  Dosis oral:

  Dewasa: CDC merekomendasikan penggunaan efavirenz 600 mg sekali sehari sebelum tidur (nelfinavir, indinavir, atau abacavir dapat ditambahkan bila pemaparan berisiko tinggi terhadap HIV).

  Pada semua kasus, terapi harus diberikan secepat mungkin dan dilanjutkan hingga 4 minggu. Meskipun penelitian pada binatang memperlihatkan pencegahan setelah terpapar > 24-36 jam kurang efektif, pada manusia tidak diketahui.

  Namun apabila terpapar, tetap harus diberikan terapi pencegahan meskipun sudah lebih dari > 36 jam terpapar.


indikasi

Pencegahan dan pengobatan Human immunodeficiency virus (HIV)

kontraindikasi

Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa efavirenz diekskresikan dalam ASI. CDC tidak merekomendasi ibu yang terinfeksi HIV menyusui bayinya, untuk menghindari risiko penularan HIV setelah kelahiran (postnatal transmission), meskipun mereka menerima efavirenz.


efek samping

53% pasien yang menerima efavirenz mengalami gangguan SSP selama uji klinis, dibandingkan 25% pasien sebagai kontrolnya. Biasanya, gejala ini dimulai pada terapi hari pertama atau kedua dan umumnya hilang dalam 2-4 minggu terapi. Gejala ini meliputi pusing (28.1%), insomnia (16.3%), gangguan kognitif (8.3%), somnolen/mengantuk (7%), mimpi buruk (6.2%), dan halusinasi (1.2%). Gejala yang berat terjadi pada sekitar 2% dan 2.1% pasien menghentikan pengobatannya. Dalam praktek klinik, sebesar 65% pasien mengalami gangguan SSP yang dirasakan seperti 'feeling stoned'. Setelah 4 minggu pengobatan, prevalensi gejala pada SSP berkurang sekitar 5-9%. Pemberian sebelum tidur akan mengurangi efek samping ini. Pasien harus diberi konseling bahwa gejala akan berhenti sendiri setelah beberapa bulan. Efek samping SSP lain yang dilaporkan meliputi gangguan koordinasi, agitasi, amnesia, ataksia, bingung, depersonalisasi, euforia, hipoestesia, parestesia, neuropat, kejang-kejang, stupor, telinga berdengung, tremor, dan gangguan penglihatan. Gangguan psikiatrik yang dilaporkan selama terapi efavirenz meliputi depresi (15.8%), anxietas (11%), dan nervousness (6.3%). Pada penelitian terkendali (meliputi 1008 pasien yang mendapat terapi efavirenz dan 635 pasien sebagai kontrol), frekuensi gangguan psikiatrik serius dibanding kontrol berturut-turut adalah depresi berat (2.4%, 0.9%), keinginan bunuh diri (0.7%, 0.3%), usaha bunuh diri nonfatal (0.5%, 0), perilaku agresif (0.4%, 0.5%), reaksi paranoid (paranoia/psikosis) (0.4%, 0.3%), dan reaksi manic (mania) (0.2%, 0.3%). Pasien dengan riwayat gangguan psikiatrik lebih besar risikonya terhadap gejala ini dengan frekuensi kejadian berkisar dari 0.3% untuk reaksi manic hingga 2% baik depresi berat maupun keinginan bunuh diri. Pasien yang mengalami gangguan psikiatrik serius harus segera dievaluasi terhadap kemungkinan hubungan efek samping dengan penggunaan efavirenz dan dapat dipertimbangkan keuntungan dibanding risiko bila terapi dilanjutkan. Pada anak-anak, gangguan psikiatrik ini terjadi pada sekitar 9% anak-anak yang mendapat terapi efaviren.


interaksi

 - Dengan Obat Lain : Efavirenz tidak disarankan digunakan bersama obat-obat yang metabolismenya melalui CYP3A4: astemizol, kisaprid, alkaloid ergot, midazolam, terfenadin, dan triazolam.Selain itu, efavirenz yang juga dimetabolisme melalui CYP3A4 akan berkompetisi sehingga menurunkan klirens obat-obat tersebut dan dapat menimbulkan efek samping serius. Hati-hati penggunaan efavirenz dengan substrat CYP3A4 lain, yang memiliki jendela terapi sempit (mis, karbamazepin, lidokain, sirolimus, atau tacrolimus atau jika menyebabkan peningkatan konsentrasi obat lain yang akan menimbulkan efek samping serius.
  - Dengan Makanan : Efavirenz harus diberikan pada saat perut kosong. Makanan dapat meningkatkan konsentrasi efavirenz sehingga akan meningkatkan efek samping.


mekanisme kerja

Efavirenz menghambat HIV-1 reverse transcriptase. Efavirenz tidak berkompetisi dengan template ataupun nucleosida trifosfat, juga tidak memerlukan fosforilasi untuk mengaktifkan. Efavirenz berikatan langsung dengan reverse transcriptase. Ikatan ini menyebabkan kerusakan aktivitas enzim sehingga menghambat RNA dan DNA yang tergantung pada aktivitas DNA polymerase. HIV-2 reverse transcriptase dan DNA polymerase alpha, gamma, atau delta pada sel manusia tidak dihambat oleh efavirenz. Efavirenz menunjukkan aktivitas yang sinergis terhadap HIV-1 pada kultur sel bila dikombinasi dengan zidovudine, didanosine, atau indinavir.


bentuk sediaan

Tablet

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Categories

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger