Banner 728x90 pxl

Rabu, 19 Januari 2011

Klindamisin

dosis


Peroral, 150 -300 mg setiap 6 jam, dapat dinaikkan hingga 450 mg setiap 6 jam pada infeksi berat ; anak-anak 3-6 mg/kg setiap 6 jam. Injeksi intramuscular dalam  atau infusi intravena, 0,6 – 2,7 g sehari (dalam 2 – 4 dosis terbagi) ; pada infeksi yang mengancam jiwa  dosis dapat dinaikkan hingga 4,8 g sehari; pemberian dosis tunggal yang melebihi 600 mg hanya boleh diberikan secara infus intravena; dosis tunggal pada pemberian infus intravena tidak boleh lebih dari 1,2 g. Anak-anak diatas 1 bulan, 15 – 40 mg/kg sehari dibagi dalam 3 – 4 dosis ; infeksi berat , minimal 300 mg sehari tanpa memperhitungkan berat badan


indikasi

Klindamisin aktif melawan kuman kokus gram positif , termasuk staphylococus yang resisten terhadap penisilin dan juga melawan beberapa bakteri anaerob terutama bacteroides fragilis. Obat ini terkonsentrasi dalam tulang dan diekskresi melalui empedu dan urin. Klindamisin direkomendasikan  pada  infeksi staphylococcus tulang  dan sendi  seperti osteomyelitis dan intra-abdominal sepsis. Klindamisin digunakan untuk profilaksis endokarditis pada pasien yang alergi terhadap penisilin. Pada infeksi oral, klindamisin sebaiknya tidak digunakan secara secara rutin untuk mengobati infeksi oral, karena  tidak lebih efektif daripada golongan penisilin melawan anaerob dan kemungkinan terdapat reisistensi silang dengan bakteri resisten eritromisin. Klindamisin hanya digunakan secara terbatas karena efek sampingnya yang serius. Efek toksik yang paling serius adalah timbulnya kolitis yang dapat berakibat fatal dan sangat umum terjadi pada usia setengah baya dan pada wanita usia lanjut , terutama sesudah operasi. Meskipun timbulnya kolitis yang berkaitan dengan penggunaan antibiotika  dapat terjadi pada penggunaan sebagian besar antibiotika, namun kondisi ini lebih sering terjadi pada penggunaan klindamisin.


kontraindikasi

Diare, dihindari injeksi yang mengandung benzil alkohol  pada neonatus

efek samping

Diare (hentikan pengobatan), perut tidak enak, oesophagitis, mual, muntah, kolitis yang berkaitan dengan penggunaan antibiotika; jaundice (penyakit kuning) dan mempengaruhi tes fungsi hati; neutropenia, eosinophilia, agranulositosis dan trombositopenia; rash, pruritus, urticaria reaksi anafilaksis, syndrom Stevens-Johnson, eksfoliatif dan dermatitis vesiculobullous; nyeri, indurasi dan abcess sesudah injeksi intramuscular;  thromboplebitis sesudah injeksi intravena


interaksi

- Dengan Obat Lain : -
- Dengan Makanan :  -


mekanisme kerja

Terjadi ikatan secara  reversibel dengan subunit ribosomal 50S,  mencegah terjadinya ikatan peptida  sehingga akan menghambat sintesis protein bakteri; efek bakteriostatik atau bakterisidal tergantung dari konsentrasi obat, letak infeksi dan jenis organisma


bentuk sediaan

Kapsul, Cairan Inj

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Categories

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger