dosis
Peroral, 150 -300 mg setiap 6 jam, dapat dinaikkan hingga 450 mg setiap 6 jam pada infeksi berat ; anak-anak 3-6 mg/kg setiap 6 jam. Injeksi intramuscular dalam atau infusi intravena, 0,6 – 2,7 g sehari (dalam 2 – 4 dosis terbagi) ; pada infeksi yang mengancam jiwa dosis dapat dinaikkan hingga 4,8 g sehari; pemberian dosis tunggal yang melebihi 600 mg hanya boleh diberikan secara infus intravena; dosis tunggal pada pemberian infus intravena tidak boleh lebih dari 1,2 g. Anak-anak diatas 1 bulan, 15 – 40 mg/kg sehari dibagi dalam 3 – 4 dosis ; infeksi berat , minimal 300 mg sehari tanpa memperhitungkan berat badan
indikasi
Klindamisin aktif melawan kuman kokus gram positif , termasuk staphylococus yang resisten terhadap penisilin dan juga melawan beberapa bakteri anaerob terutama bacteroides fragilis. Obat ini terkonsentrasi dalam tulang dan diekskresi melalui empedu dan urin. Klindamisin direkomendasikan pada infeksi staphylococcus tulang dan sendi seperti osteomyelitis dan intra-abdominal sepsis. Klindamisin digunakan untuk profilaksis endokarditis pada pasien yang alergi terhadap penisilin. Pada infeksi oral, klindamisin sebaiknya tidak digunakan secara secara rutin untuk mengobati infeksi oral, karena tidak lebih efektif daripada golongan penisilin melawan anaerob dan kemungkinan terdapat reisistensi silang dengan bakteri resisten eritromisin. Klindamisin hanya digunakan secara terbatas karena efek sampingnya yang serius. Efek toksik yang paling serius adalah timbulnya kolitis yang dapat berakibat fatal dan sangat umum terjadi pada usia setengah baya dan pada wanita usia lanjut , terutama sesudah operasi. Meskipun timbulnya kolitis yang berkaitan dengan penggunaan antibiotika dapat terjadi pada penggunaan sebagian besar antibiotika, namun kondisi ini lebih sering terjadi pada penggunaan klindamisin.
kontraindikasi
Diare, dihindari injeksi yang mengandung benzil alkohol pada neonatus
efek samping
Diare (hentikan pengobatan), perut tidak enak, oesophagitis, mual, muntah, kolitis yang berkaitan dengan penggunaan antibiotika; jaundice (penyakit kuning) dan mempengaruhi tes fungsi hati; neutropenia, eosinophilia, agranulositosis dan trombositopenia; rash, pruritus, urticaria reaksi anafilaksis, syndrom Stevens-Johnson, eksfoliatif dan dermatitis vesiculobullous; nyeri, indurasi dan abcess sesudah injeksi intramuscular; thromboplebitis sesudah injeksi intravena
interaksi
- Dengan Obat Lain : -
- Dengan Makanan : -
mekanisme kerja
Terjadi ikatan secara reversibel dengan subunit ribosomal 50S, mencegah terjadinya ikatan peptida sehingga akan menghambat sintesis protein bakteri; efek bakteriostatik atau bakterisidal tergantung dari konsentrasi obat, letak infeksi dan jenis organisma
bentuk sediaan
Kapsul, Cairan Inj


10.08.00
PandauCCTV
0 komentar:
Posting Komentar